Powered By Blogger

Minggu, 21 Juli 2013

Intisari Kehidupan (part 1)


“Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian.” 
― Sukarno

Ini adalah sebuah lomba yang mana pilihannya ada tiga, yaitu :
1. Menjadi pemenang dan terlepas dari bayang-bayang itu
2. Kalah dan tidak peduli dengan kata orang lain
3. Kalah dan tetap hidup di bawah bayang-bayang orang lain

Pilihan ketiga hanyalah pilihan bagi orang-orang yang putus asa, takut, dan tidak berani melangkah menjadi pribadi yang lebih baik dari orang lain.

Pilihan kedua merupakan pilihan bagi orang-orang yang apatis. Tidak mampu menyalurkan pandangan-pandangan negatif orang menjadi suatu hal-hal positif yang justru berguna bagi diri Anda. Ini adalah pilihan orang-orang yang memiliki penilaian yang salah mengenai arti ‘just be your self’. Mereka hanya ingin menjadi dirinya sendiri, tanpa mempedulikan orang lain, dan membiarkan hidupnya berjalan seperti angin (ikuti saja alurnya) dan tidak berani melakukan tantangan yang berarti bagi kehidupannya.

Pilihan pertama merupakan pilihan yang ditujukan bagi mereka yang berani keluar dari zona nyaman, berani kalah sementara, berusaha memutar balikkan pandangan-pandangan negatif yang menimpa mereka, berani bermimpi, berani menantang mereka-mereka yang sudah mencaci dan memandang sebelah mata, serta berani menjadi pribadi yang lebih baik dari sosok yang membayang-bayangi.
(Gusmiati, 2013)



Mengingat mimpi tak teraih ini mengingatkan saya pada cerita seseorang, seorang engineer sukses di Indonesia. Ketika muda, ia bercita-cita ingin menjadi dokter, sangat sangat bercita-cita. Beliau mengikuti pelatihan tes masuk kedokteran dengan sangat serius dan rajin. Ketika hari H ujian, semua soal dapat dikerjakannya dengan mudah hingga beliau merasa sangat optimis. Setelah sampai di rumah, beliau menyadari sesuatu, yaitu bahwa lembar jawabannya belum dicantumkan identitas diri beliau. Setelah diusahakan kesana kemari, tetaplah tidak dapat ditambahkannya identitasnya pada lembar jawaban. Dan akhirnya, beliau gagal masuk kedokteran, dan akhirnya masuk ke bidang teknik hingga menjadi sukses seperti sekarang.

‘so, where’s the point?’ saya hanya ingin mengingatkan diri saya, bahwa sorot mata dan nada penyesalan yang tidak dapat hilang dari beliau ketika menceritakan kisahnya, MUNGKIN akan menjadi sorot mata yang sama ketika saya mengingat hal ini. Namun ketika hari itu tiba, haruslah setelahnya saya menggantinya dengan cerita dan sorot mata yang bahagia, karena di jalan yang saya ‘dapat’ inilah saya menemukan ‘jalan hidup’ saya.

Biarlah cita-cita yang tak teraih menjadi suatu kenangan. Pastikan saja tidak lagi merasa kurang dengan jalan dimana kita berada sekarang ini. Bagi yang masih muda yang memiliki banyak kesempatan memilih, lekas-lekaslah tentukan tujuan dan kejar mimpimu. Saya juga ingin memastikan orang-orang di sekitar saya tidak menyesal karena terlambat bermimpi atau terlambat untuk berani bermimpi.

ATLAS- 23.46.12.7.13


Tidak ada komentar:

Posting Komentar