Powered By Blogger

Jumat, 12 Oktober 2012

petualangan di kota seni

hey .. seneng banget bisa berbagi cerita lagi dengan sobat pecinta blog..
bdw, kali ini gw ingin berbagi cerita tentang kisah gw ketika gw harus mengungsi kuliah ....

emhhh sebenernya bukan mengungsi tapi lebih tepatnya kembali ke habitat asal kami sebagai anak kelautan .. hahhaa... sejak kemarin, tepatnya tanggal 12 Oktober 2012, gw bersama kawan2 gw untuk sementara waktu pindah tempat kuliah ke kampus Teluk Awur, Jepara. disini merupakan centra tempat penelitian. kebetulan dengan sistem kuliah yang baru, untuk semester ini, saya dan teman-teman akan tinggal di Kota Jepara ini selama 12 hari. bukan waktu yang sebentar bukan???

yapp... bisanya kalo orang-orang terdahulu tinggal di Jepara hanya 4-5 hari dan langsung balik ke Semarang. tapi untuk kami, kami harus tinggal di Jepara selama 2 minggu NON STOP!

sedikit canggung karena harus tinggal di kota yang sebelumnya saya tidak kenal. dimana saya tidak memiliki sanak saudara di kota terpencil ini.



12 hari itu bukan waktu yang singkat.. disini kami harus kuliah, praktikum. laporan juga dikerjakan pada hari itu. tenaga kami benar benar terforsir, hingga satu persatu dari  marine squad sakit. ditambah lagi luka luka yang kami dapatkan dari praktikum lapangan. kaki kaki penuh luka karena menginjak karang ..
tapi itu adalah sekelumit cerita perih kami. 

tapi percaya lah .. ada hal lain yang bisa kami dapatkan dari semua perjala nan ini..
apalagi kalau bukan KEBERSAMAAN.. disinilah KEBERSAMAAN kita makin terajut, sebagai media untuk lebih mengenal antar sesama squad .. yahhh percayalah dibalik kesulitan adahal lain yang bisa kita dapatkan disini ..

Kamis, 11 Oktober 2012

Mangrove Ide Baru Sebagai Wirausaha Kelautan



Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang hakiki dan pemenuhan kebutuhan pangan harus dilaksanakan secara adil dan merata berdasarkan kemandirian dan tidak bertentangan dengan keyakinan  masyarakat  seperti  yang  diamanatkan  oleh  UU  No.  7 tahun 1996 tentang Pangan. Upaya pemenuhan kebutuhan pangan harus  terus  dilakukan  mengingat  peran  pangan  sangat strategis, yaitu terkait dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia, ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional sehingga ketersediaanya harus dalam jumlah yang cukup, bergizi, seimbang, merata dan terjangkau oleh daya beli masyarakat.

Belum  banyak  pengetahuan  tentang  potensi  dan  manfaat mangrove  sebagai  sumber  pangan. Penelitian  yang  dilakukan Mamoribo  (2003)  pada  masyarakat  kampung  Rayori,  distrik Supriyori Selatan, kabupaten Biak Numfor memberikan informasi bahwa  masyarakat  telah  memanfaatkan  buah  mangrove  untuk dimakan  terutama  jenis  Bruguiera  gymnorrhiza yang  buahnya diolah menjadi kue. Penduduk yang tinggal di daerah pesisir pantai atau sekitar hutan mangrove seperti di Muara Angke Jakarta dan teluk Balikpapan secara tradisional pun ternyata telah mengkonsumsi beberapa jenis buah mangrove sebagai sayuran, seperti Rhizophora mucronata, Acrostichum aureum (Kerakas) dan Sesbania  grandiflora (Turi).  B.  gymnorrhiza atau  biasa  disebut Lindur,  dikonsumsi dengan  cara  mencampurkannya  dengan  nasi sedangkan  buah  A.  alba (Api-api)  dapat  diolah menjadi  keripik. Buah Sonneratia alba (Pedada) diolah menjadi sirup dan permen (Haryono,  2004). Begitu  pula  di  sebagian  wilayah  Timor  Barat, Flores,  Sumba,  Sabu  dan  Alor,  masyarakat menggunakan  buah mangrove  ini  sebagai  pengganti  beras  dan  jagung  pada  waktu  terjadi  krisis pangan  (Fortuna,  2005).  Masyarakat  di  kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sudah terbiasa mengkonsumsi buah mangrove  dan  kacang  hutan  sebagai  pangan  lokal  pada  waktu tertentu.

Nah salah satu makanan yang dapat dibuat dari tanaman mangrove salah satunya adalah dari buah api-api yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Avicennia alba.




ONDE-ONDE API-API
Bahan
1. 1500 gr buah Api-api.
2. 1000 gr gula merah.
3. 500 gr tepung ketan.
4. 250 gr tepung beras.
5. 2 butir kelapa parut.
6. Garam, kapur sirih, dan air secukupnya.
Peralatan 
Panci, blender, baskom plastik, tirisan, parutan, sendok kayu, 
kompor.
Cara 
1. Blender buah Api-api sampai lembut, setelah itu sisihkan.
2. Masukkan tepung beras, tepung ketan, garam, kapur sirih, 
ke dalam buah Api-api yang telah diblender menjadi 
adonan yang bisa dibulatkan.
3. Adonan dibuat bulatan seperti bola dan diisi gula merah.
4. Masukkan ke dalam air mendidih setelah mengapung 
kemudian angkat dan tiriskan lalu gulingkan di atas 
parutan kelapa.
5. Siap dihidangkan.

Laut Bukan Tong Sampah Raksasa!






cerita lautku dulu, kini dan nanti


Jalasveva Jayamahe lautku ..
apa kabarnya dirimu saat ini??
apakah engkau jenuh atau sedang berdamai pada kami ..

manusia yang penuh dosa
yang serakah, yang lalai, yang rakus dan tamak 
yang kini membuatmu geram dan ingin membunuh kami

Sahabat ..
taukah kau.. . ..
jika kita adalah bangsa yang memiliki kekuatan maritim yang luar biasa?

namun....
 kini tak lagi maritim
dan termakan hasutan sumpah serapah bangsa barat!!!!

mengubah pemikiran pribumi
menjadi manusia yang cinta daratan
dan melupakan jati dirinya, sebagai bangsa bahari

ya... benar
dulu kita bangsa yang kuat
ingatkah kau sejarah kuatnya kerajaan Ternate-Tidore, Sriwijaya, atau Majapahit??

itulah masa lalu kita
yang kini berubah
BERUBAH !

pribadi pribadi yang cinta kedamaian
hangatnya sinar mentari diujung laut
dan keindahan sunset disore hari

sedikit mengubah akan masa depan kami
coba menggali potensi dan kekuatan
yang dulu pernah tenggelam ke dasar

kawan ...
jikalau engkau ingat dongeng masa lalu kita 
akan nenek moyang kuat yang pernah ada

yaaa.. itulah kita
bangsa Indonesia
yang dulu pernah m'rasa jaya

ingatlah . .. . 
bersama laut kita kuat 
bersama laut kita kaya
bersama laut kita jaya 

gambar pertamaku

Nah . . . .ini adalah gambar pertamaku di paint. 

Disini aku menggambar tentang masa-masa dimana laut kita geram dan ingin memakan kita (manusia yang tak berdaya). Dalam gambar ini, terlihat sebuah pantai yang memiliki sedikit pohon mangrove dan tak ada pemecah ombak untuk sedikit mengurangi gelombang yang diakibatkan oleh air laut yang tertiup angin. 

Lihatlah rumah itu siap diterjang ombak hingga habis binasa bersama makhluk ynag tinggal dibawah atapnya!

Dan kau juga bisa lihat, ada seorang nelayan yang berteriak meminta tolong, karena nyawanya yang akan siap dicabut oleh ombak yang besar ..

Tak hanya manusia, hewan-hewan laut pun ikut merasakan dampaknya .. dan inilah kenyataannya cerita laut kita


Kamis, 04 Oktober 2012

lukisan malam ini

seraya waktu berjalan ..
aku hanya bisa berdoa ..
Tuhan ... jikalau aku memang ditakdirkan bersamanya persatukanlah kami dalam sebuah ikatan . 
namun jikalau tidak, jadikanlah antara aku dan dia manusia yang saling menjaga .. 

dalam gelapnya malam ..
aku tetap saja mencari sebuah jawaban yang selalu kunantikan ..
waktu yang telah kuhabiskan tuk memikirkanmu, mungkin tak ada gunanya dipikirmu !
dan harusnya kupahami itu ..

Tuhan Maha Pengasih ..
malam ini, Tuhan berikan jawabannya padaku ..
dan taukah kau ... ?
jawaban itu yang sebelumnya tak kuharapkan ..

kenyataan memang pahit ..
namun akan terasa lebih pahit, jika kamu tak katakan ..
dan sudah terlalu lama aku terdiam ..
terpaku, memandangi senyummu yang terasa semakin kecut !

hujan ..
lama tak kau datang padaku ..
malam ini kau hadir membasuh peluhku ..
Tuhan, apakah Engkau datang dengan sebuah jawaban?

ya tepat sekali ..
disini kau datang kehadapanku, menggandeng dia yang baru ..
kau tertawa dan aku hanya mampu membisu ..
mengukir jawaban diatas lembar kelabu ..